Thursday, 1 March 2018

“Aku nggak bisa merasa bersalah terus-menerus. Aku harus melakukan sesuatu. Mungkin aku harus bicara ke dia.” Budi menatap ke arah Jaka dengan penuh kesedihan. Bakmie ayam pedas yang dilahap keduanya sejak 15 menit yang lalu sudah tak panas lagi. Jaka mengetukkan jarinya pada mangkok mie sembari menjawab, “Udah, kamu lakukan aja. Aku akan selalu mendukung, kok.” Jaka tersenyum. Hujan gerimis membasahi aspal berlubang yang dilewati mereka dalam perjalanan menuju rumah Jaka. “Pertemukan aku dengan Tia. Aku harus mendengar perspektif dari seorang perempuan mengenai masalah ini.” Budi memandangi Jaka yang sedang asyik memainkan ponselnya di ruang tamu. “Buat apa? Kamu tahu rumahnya. Kamu bisa datang sendiri.” “Tapi dia itu pacarmu, setidaknya kamu temani aku ke rumahnya.” Budi menunduk. Kepalanya masih dipenuhi oleh kenangan tiga bulan lalu saat ia bertemu kali terakhir dengan Ina.

Ina tidak menghilang begitu saja. Budi tahu di mana Ina bekerja sekarang dari banyak informasi yang dikumpulkannya. Alamat kediamannya sudah berada di genggaman Budi. Nama kedua orang tuanya juga benar-benar diingat olehnya. Budi hanya tak tahu kapan dan bagaimana dia memohon maaf pada Ina setelah semua yang telah terjadi. Ponsel Budi berdering, Jaka mengabarkan jika ia akan datang ke kenduri kebudayaan yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri. Tia juga akan hadir di situ. Selama 7 tahun Budi bersahabat dengan Jaka, pada momen ini Budi menyadari betapa berharganya persahabatan yang ia jalin dengan Jaka. Tia yang kini menjadi kekasih Jaka juga memberikan begitu banyak dukungan moral yang tak akan bisa dibalasnya. Hujan deras masih mengguyur lapangan tempat kenduri kebudayaan berlangsung. Jaka, Tia, Budi dan Ricky, sahabat Budi yang juga kawan sekampus Tia, berteduh di salah satu pintu gedung kampus tersebut. Jaka dan Ricky berlari ke arah lapangan dan meninggalkan Budi dan Tia berdua di tempat itu. Budi mengungkapkan semua kegundahannya mengenai rasa bersalahnya pada Ina. Tia mendengarkan dengan seksama. Tangis hampir saja tumpah dari mata Budi. Ketegaran hatinya menghalangi jatuhnya air yang sudah berkumpul di pelupuk mata. “Kamu harus memperjelas masalah ini. Ungkapkan semua yang ada di perasaanmu ke dia. Kamu juga harus mendengarkan semua yang dia katakan. Semoga masalah ini cepat selesai dan kamu nggak galau lagi.” Tia menatap mata sembab Budi dengan serius. Kenduri kebudayaan telah usai. Perjalanan Budi menuju rumah dilaluinya dengan kondisi hati tak menentu.

Ponsel Budi berdering. Tia membalas pesan singkat Budi. Hari Minggu pekan depan Tia tidak memiliki rencana apapun dengan Jaka. Budi mengontak Jaka dan mengabarkan mengenai rencananya untuk memohon maaf langsung ke rumah Ina. Jaka menerima ajakan Budi untuk mengantarnya menuju kediaman Ina. Hari dan tanggal sudah ditentukan dan dipersiapkan dengan matang oleh Budi. Paket sembako berisi minyak goreng, gula pasir, dua kotak teh celup dan dua batang cokelat sudah dibungkus dengan rapi olehnya. Jam dinding telah menunjukkan pukul 02.00 WIB. Dua hari lagi Budi dan Jaka akan mengeksekusi semua rencana mereka. Budi masih terjaga dengan perasaan cemas akan reaksi Ina dan kondisi lainnya yang dapat menghalangi perjalanan demi kata maaf itu. Air mata menitik pelan dari matanya. Ingatan Budi tentang kebaikan dan pendapat Ina mengenai dirinya menambah perihnya rasa bersalah yang dipendam Budi selama tiga bulan terakhir. Cara pandang Ina terhadap dirinya yang berbeda dengan hampir semua orang yang ia kenal membuatnya tak sanggup membendung penyesalan akibat perbuatan yang dilakukannya.

Perjalanan 23 km dilalui oleh Budi dan Jaka dengan penuh suka cita. Budi yakin, jika pemohonan maafnya diterima dengan baik oleh Ina, rasa bersalah itu akan sirna. Motor Jaka telah berhenti. Budi turun dengan perlahan. Langkah kakinya gontai, jari-jari di tangannya gemetar. Setelah tiga bulan tak bertemu Ina, hanya kata maaf yang ada di benak Budi saat ini. Tiga kali pintu rumah Ina diketuknya, ucapan salam juga sudah keluar dari lisannya. Tak ada jawaban dari penghuni rumah. Budi mengulang ucapan salam dan ketukan pintu selama beberapa kali. Masih tak ada reaksi apapun. Pupus sudah harapan Budi untuk kembali bertemu Ina. Paket sembako yang erat digenggamnya kini hampir terlepas dari tangannya. Sekujur tubuhnya lemas. Senyum dan motivasi dari Jaka untuk mencoba datang kembali minggu depan tak mampu mengalahkan kegundahan dalam batin Budi. Kegagalan itu membangkitkan kembali bayangan kelabu dalam pikirannya.

Budi terbangun. Jam di kamarnya berusaha keras untuk dilihatnya akibat mata yang susah terbuka setelah dua jam terlelap. Hujan deras diiringi angin yang berhembus kencang tampak samar dari jendela kamar yang tertutup oleh lapisan kabut tebal. Tia bertanya mengenai perasaan Budi pasca terkuburnya impian Budi untuk bertemu Ina. Budi menjawab pertanyaan yang diajukan lewat aplikasi pesan singkat itu dengan kata-kata yang menenangkan hatinya. Budi sangat bersyukur bisa dekat dengan banyak orang yang selalu setia mendukungnya di masa-masa sulit ini. Tangis haru menyeruak di sela-sela kelopak matanya. Tak ada kata yang cocok untuk menggambarkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang seperti Jaka dan Tia. Entah sampai kapan Budi dihantui oleh kesedihan yang menikam jiwanya.

Budi was-was. Sudah lewat jam 11 siang. Jaka masih belum menampakkan diri di depan rumahnya. Kekhawatiran akan terulangnya kejadian sepekan yang lalu membuat Budi langsung menghubungi Jaka lewat ponselnya. Tak ada jawaban. Budi semakin panik. Deru mesin motor tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Jaka duduk di atas motor dengan susu kedelai yang sudah hampir habis di tangan kanannya. Terik matahari tak menghalangi keduanya untuk mengarungi perjalanan jauh demi kerinduan dan permohonan maaf yang harus segera diucapkan oleh Budi. Tak seperti sebelumnya, Budi dan Jaka lebih banyak diam. Jaka lelah karena baru saja pulang dari tempatnya berjualan di pasar sedangkan Budi banyak memikirkan tentang apa yang harus dikeluarkan oleh lisannya di depan Ina akibat kerinduan yang terlalu lama ia pendam.


“Assalamu’alaikum.” Budi mengetuk pintu dan mengucap salam dengan lantang. Seorang pria paruh baya berkulit gelap membukakan pintu. “Permisi, Pak. Apa benar ini rumahnya Pak Achmad Syarifuddin?” Budi bertanya sembari mengamati wajah pria itu. Budi teringat salah seorang komedian terkenal tanah air yang kini aktif di bidang keagamaan. “Iya, benar.” “Mbak Inanya ada, Pak?” Kiwil. Pria itu memiliki beberapa kemiripan dengan Kiwil sang komedian. “Ada. Silakan masuk.” Budi berjalan melewati pintu dengan langkah gontai. “Kamu temannya Ina?” “Bukan, Pak. Saya dulu murid lesnya. Nama saya Budi.” Pria yang hanya mengenakan kaus dalam itu bergegas menuju ke dalam rumah dan memanggil Ina. Budi memandangi sekeliling rumah. Suasana yang bersih dan rapi cukup meredakan rasa gugup dalam hati Budi. “Ada apa kamu ke sini?” Ina duduk sambil memandangi Budi yang menunduk dan tak berani membalas tatapan dari Ina. Paket sembako dalam kantong plastik diberikan kepada Ina. Budi masih tak sanggup melihat wajah perempuan yang sudah tiga bulan tidak dia temui. “Apa ini?” “Program CSR dari usaha yang aku jalani sekarang.” Budi terpaksa memandang paras Ina yang sedang membuka paket itu dengan serius. “Aku ingin minta maaf soal apa yang terjadi tiga bulan yang lalu.” Suara Budi bergetar. Matanya terfokus pada meja tamu. “Aku tak seharusnya mengungkapkan perasaanku kalau akhirnya itu membuatmu tak nyaman. Aku merasa bersalah. Aku telah kelewat batas. Saat itu, aku tak mampu menahan perasaanku sendiri.” Mata Budi berkaca-kaca. Suaranya parau. Susah payah ia berusaha menahan air mata yang sudah menunggu di tepian kelopak matanya. “Iya, aku mengerti. Aku tahu siapa yang sebenarnya kau bicarakan waktu itu. Kamu adalah muridku, Budi. Aku telah menganggapmu seperti adikku sendiri.” Budi kini lebih tenang. Sorot matanya tertuju pada Ina yang belum selesai mengungkapkan isi hatinya. “Aku yakin, kamu akan bertemu banyak perempuan lain yang cocok untukmu di luar sana. Aku tahu perasaanmu itu mungkin baru pertama kali kau rasakan sepanjang hidupmu.” Budi tersenyum. Senyum pertama di depan Ina setelah cukup lama ia terpuruk dalam rasa bersalah dan kesedihan. “Aku juga minta maaf ke kamu, Budi. Aku tak pernah berniat untuk menyinggung perasaanmu dengan semua yang aku lakukan itu.” Budi mengangguk. Mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan oleh pikirannya yang masih mengenang pengalaman indah ketika ia tertawa dan menceritakan banyak hal dengan Ina. “Mengapa kau tiba-tiba terbuka padaku? Menceritakan banyak hal yang tidak banyak kamu ceritakan kepada orang lain?”  Budi bertanya disertai harapan yang membumbung tinggi untuk menemukan jawaban yang memuaskan hatinya. “Karena kamu adalah pendengar yang baik. Kamu orang yang enak untuk diajak bicara. Aku juga sudah cukup lama mengenal dirimu. Aku juga ingin kamu belajar dari apa yang telah aku alami.” Jawaban Ina sudah cukup memuaskan hati Budi. Setelah percakapan itu, banyak hal yang dibicarakan oleh Budi kepada Ina. Budi sengaja mencari-cari bahan pembicaraan demi rasa rindu yang membuncah dalam hatinya. Kesempatan itu mungkin terakhir kalinya Budi akan bertemu Ina. Budi tak ingin menyia-nyiakannya dengan pertemuan yang berlangsung terlampau singkat.

Tak terasa, hampir dua jam Budi berada di ruang tamu kediaman Ina. Budi menelepon Jaka yang sedari awal menunggunya di masjid dekat rumah Ina. Budi kembali melontarkan pertanyaan setelah Jaka hadir dan duduk di samping Budi. “Setelah apa yang aku lakukan, apakah kamu memiliki inisiatif untuk menjelaskan sesuatu kepadaku sebelum kau tiba-tiba menghilang dari tempat kursus itu?” “Iya. Aku ingin meminta maaf padamu, Budi. Namun sangat berat bagiku untuk mengatakannya. Aku juga takut akan kecanggungan yang timbul saat aku meminta maaf nantinya. Karena itulah, aku memutuskan untuk membiarkan masalah itu hilang dengan sendirinya.” Budi mengangguk. Raut wajah Jaka menunjukkan kebosanan akibat menunggu Budi terlalu lama. “Apakah kamu benar-benar memaafkanku, Ina?” Budi bertanya. Suaranya tercekat. Mata Budi yang sebelumnya terlihat antusias kini kembali berkaca-kaca. “Iya. Setelah apa yang terjadi, aku rasa kita sudah memaafkan kesalahan masing-masing.” Ina terdiam. Budi dan Jaka saling menatap satu sama lain. “Terima kasih atas segalanya, Budi. Terima kasih atas sikapmu yang bijaksana dan kedewasaan yang kau tunjukkan.” Ina melanjutkan perkatannya sambil memandangi Budi dan Jaka yang kini menatap jam dinding. Budi menjawab dengan sedikit kebingungan, “Kedewasaan? Apa maksudmu?” “Kamu telah menyelesaikan semua masalah ini dengan sikap dewasa. Tak seperti diriku yang memilih diam dan kekanak-kanakan saat menghadapi semua peristiwa ini.” “Tidak, kamu tidak kekakanak-kanakan. Caramu menanggapi masalah ini sudah sangat wajar.” Sorot mata Budi tajam untuk meyakinkan Ina mengenai ketulusan hatinya saat mengucapkan kalimat itu. “Hati-hati di jalan. Terima kasih untuk kalian berdua yang sudah meluangkan waktu dan datang jauh-jauh ke sini. Aku harap, kita bisa seperti dulu lagi, Budi.” “Tidak. Setelah apa yang terjadi, hubungan antara kita berdua tidak akan pernah sama lagi.” “Setidaknya, masalah ini telah usai dan hubungan kita tak sedingin beberapa bulan belakangan.” “Mungkin, Ina. Entahlah.” Budi dan Jaka beranjak dari sofa dan berpamitan. Budi dan Jaka sudah 300 meter menjauh dari tempat tinggal Ina. Di atas Motor, Budi mengepalkan kedua tangannya ke langit dan tersenyum puas. “Maaf atas penolakan itu, Budi.” Jaka membuka pembicaraan di balik kemudi kendaraannya. “Tidak. Itu bukan penolakan. Itu adalah suara hati Ina yang harus aku hargai.” Budi menjawab dengan senyum yang masih tersungging di wajahnya. Ia yakin, tak ada tangis yang sia-sia. Rasa sakit akibat jawaban yang keluar dari bibir Ina memang tetap ada. Namun, dari rasa sakit itu Budi belajar. Budi kini mengerti, perempuan seperti apa yang selama ini ia cari. Budi mencari kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang ada di benaknya saat ini. Cinta. Budi merasa cinta pada sosok Ina. Baginya, cinta dibuktikan ketika ia bahagia dengan pilihan yang dijalani oleh Ina. Walau mungkin rasa itu tak pernah berbalas. Budi tahu, mencintai itu berat. Budi tak akan kuat. Biar waktu yang menjawab semuanya. Setibanya di rumah, Budi membaringkan tubuhnya di kamar. Tetes air mata membasahi pipinya yang masih dipenuhi debu jalanan. Tangis itu bukan lagi karena kesedihan atau rasa bersalah yang menghantui. Seluruh air mata itu adalah tangis kebahagiaan. Budi bahagia karena dapat merasakan cintanya terhadap Ina. Rasa itu akan terus ia jaga meski Ina hampir tak mungkin menjadi miliknya. Karena cinta tak harus memiliki.


Malang, Februari 2018.

Terima kasih kepada MRAA, SK, RWR, FD, FPM, HAF dan seluruh pihak yang terlibat.

1 comments: